Untukmu yang telah menikah, yang akan menikah, dan yang belum menikah
Pernikahan adalah fakultas kesabaran dari universitas kehidupan. Jika ingin menjadi orang yang sabar maka masukilah dunia pernikahan.Karena di dalam mengarunginya kita harus menyiapkan segudang persediaan memaafkan dan meminta maaf.
Jika kita menempatkan pernikahan sebagai tempat berdampingnya ikhwan dan akhwat dalam mahligai perkawinan, sebenarnya sekaligus tempat berdampingnya mereka dalam tugas dakwah sebagai partner. Dalam makna lain, berdampingnya mereka dalam tugas - tugas kemasyarakatan, karena hal ini adalah bagian yang tak terpisahkan. Mana bisa dakwah sendiri-sendiri, karena masyarakat adalah kumpulan ikhwan dengan akhwat.
Menikah adalah satu noktah dari perjalanan yang panjang. Dengan menikah akan membuat kita tetap berada pada rel perjuangan dan berusaha meningkatkan kualitas juga kuantitas perjuangan itu sendiri. Bukan sebaliknya, dengan menikah bikin letoy dalam berjuang dengan alasan menunaikan tanggung jawab berkeluarga. Perjuangan tetap berlanjut dengan semangat yang membara.
Jika seorang ikhwan sudah memasuki dunia ini, jadilah dia seorang pemimpin dalam keluarga. Bertanggung jawab atas yang dipimpinnya, yaitu keluarga. Tetapi janganlah tanggung jawabnya terhadap dunia ini dilalaikan. Menggapai khairu ummah adalah tanggung jawab setiap muslim. Perjuangan dakwah jangan ditinggalkan, jadikan anak dan istri menjadi pendukung dakwah suami.
Jika seorang akhwat sudah memasuki dunia keluarga, maka waktunya bukan lagi mutlak milik dirinya sendiri. Dia sudah berubah status menjadi istri bagi suaminya, ibu bagi anak-anaknya dan sekaligus da'iyah bagi lingkungannya. Kalau sebelumnya berjuang bersama-sama aktivis nisaa, tentu akan berubah setelah married. Tapi perlu diingat, bukan dakwahnya menjadi hilang, tapi hanya berubah pelaksanannya. Ada suami dan anak yang menjadi kewajiban. Setelah ditunaikan, mintalah izin terlebih dahulu bila ingin melaksanakan yang lain. Tak bermaksud mengekang atau meremehkan, tapi memang banyak pahala yang bisa didapat dengan tinggalnya istri di rumah. Kewajibannya adalah menjaga kehormatan dan harta keluarga. Berdakwahnya sang istri, tidaklah harus keluar rumah. Menunggu suami pulang dari majelis, menyiapkan keperluannya adalah bagian dari dakwah. Mendidik anak2 untuk dibekali modal dakwah, sungguh tugas yang mulia.
Disinilah dibutuhkan satu kejelian dalam menentukan seorang pendamping hidup yang benar - benar pilihan. Pendamping hidup yang ideal bagi kita bukan berarti dia harus unggul atau menonjol. Tetapi pasangan yang tepat, yaitu yang sesuai dengan bingkai dan kepribadian kita. Sebab telah terbukti bahwa, tidak semua orang cerdas membutuhkan orang cerdas lainnya. Tidak semua pria yang gagah memerlukan wanita cantik sebagai pendampingnya. Kita ambil saja contoh Rasulullah SAW, diantara istri - istri beliau yang paling menonjol kecerdasannya hanyalah 'Aisyah, sedangkan yang lainnya begitu bersahaja. Amirrul Mukminin Umar bin Khattab pun demikian, di dalam pemerintahan beliau lebih terkenal dengan sikapnya yang keras dan tegas. Tapi di dalam rumah beliau seperti anak kecil yang manja terhadap istri - istrinya.
Bukan berarti para ikhwan tidak boleh pilah pilih, tapi luruskanlah niat untuk mencari pasangan karena Allah. Takkan ada akhwat yang sempurna, itu cuma ada di sinetron saja. Taaruf lewat pacaran, no way. Pun kalau sudah ada rasa cinta sebelum menikah, berarti cintanya illegal. Ikhlas menerima akhwat yang taat kepada Allah, insya Allah kehormatan rumah tangga akan terjaga. Buat apa punya pasangan bak super model tapi akhirnya malah membina rumah (te)tangga.
Dan juga bukan berarti para akhwat tidak boleh memiliki beberapa patokan kriteria dalam memilih seorang ikhwan. Akan tetapi setidaknya jangan sampai membuat satu patokan yang bisa membuat para calon itu sendiri berpikir seribu kali untuk berta'aruf apalagi punya hasrat untuk membina rumah tangga. Satu ketakutan terkadang muncul dalam diri ikhwan yang sebenarnya sudah "siap" untuk menikah secara fisik dan materi, tapi secara mental sebenarnya mereka masih "jauh".
Apa gunanya kriteria yang terkadang dengan "susah payah" mereka wujudkan kalau para ikhwan itu niatnya hanya untuk mendapatkan kita saja. Alih - alih dapat suami hafidz tapi dia menghafal Qur'an hanya sebagai pemenuhan atas syarat yang di ajukan saja.Disini yang perlu diluruskan adalah niatan dan tujuan mulia kita yang memutuskan untuk menikah yang benar - benar hanya karena Allah SWT.
Penyamaan dan penyatuan visi, misi dan konsep tentang pembentukan suatu keluarga yang sakinah mawaddah dan rahmah adalah satu hal yang sangat penting sekali sebelum kita mengambil satu keputusan akhir dengan siapa dan orang seperti apa kita akan menikah. Kesatuan fikrah dan prinsip adalah hal yang sangat mendasar dan urgent sekali demi tetap eksisnya satu ikatan rumah tangga. Karena pernikahan bukan hanya merupakan satu ikatan fisik tapi juga merupakan satu ikatan batin antara dua jiwa yang berbeda, maka dalam prosesnyapun diperlukan satu persiapan dan cara yang benar - benar matang dan sesuai dengan syariat Islam tentunya.
Menikah bukan hanya bertemunya seorang laki - laki dan perempuan saja tapi juga merupakan tempat bertemunya satu partner dakwah baru yang akan lebih menyempurnakan usaha perjuangan dakwah yang selama ini hanya mereka lakukan secara individu. Dan dengan pernikahan ini diharapkan akan lahirnya satu ikatan perjuangan dakwah yang lebih kokoh dan kuat. Disini akan timbul satu kerjasama dan satu kewajiban yang tak dapat terelakkan lagi antara keduanya dalam rangka ber-amar ma'ruf dan nahi munkar. Intinya jangan sampai karena kita telah menikah justru ghirah juang dakwah kita surut bahkan hilang sama sekali.Saling mengingatkan antara keduanya saat lalai, membangkitkan ghirah saat yang satu sedang lemah. Menjadi sandaran dan tempat berlindung serta tempat mendapatkan kenyamanan hidup dari derasnya dan beratnya medan juang dakwah dalam kehidupan.
Menikah juga merupakan satu media tarbiyah diri yang terus akan berlangsung seumur hidup. Dari mulai pengenalan pribadi sampai pada penyesuaian diri agar ikatan perkawinan tetap terjaga ditengah derasnya gelombang kehidupan.Karena puncak masalah dalam pernikahan bukanlah dengan siapa kita akan menikah tetapi bagaimana kita bisa tetap survive didalam perkawinan tersebut, siapapun pasangan kita kelak.
Perbedaan kultur dan latar belakang budaya tak jarang dapat menjadi kerikil tajam dalam mengarunginya.Disinilah diperlukan satu pendidikan ruhiyah yang dilakukan secara rutin dan kontinyu agar jiwa dan ruhiah kita terus mendapat transfer positif saat menghadapi pelik persoalan rumah tangga. Aktivitas ini akan menjadikan jiwa kita terbina, sehingga kita akan terbiasa menghadapi masalah yang timbul sesulit apapun. Satu pribadi yang telah terdidik dengan baik akan menjadi sosok pribadi yang tangguh dan tegar dalam kehidupan.Dia akan dapat memahami satu pokok masalah sebagai satu ujian kehidupan dan sebagai ukuran tingkatan sejauh mana dirinya mampu mengaplikasikan ilmu yang selama ini ia dapatkan dalam setiap kajian halqoh-halqoh.
Pernikahan bukanlah puncak dari satu tujuan kehidupan . Justru pernikahan adalah satu titik awal perjalanan panjang yang didalamnya terdapat begitu banyak ujian dan rintangan. Untuk menjalaninya diperlukan satu kesiapan jiwa yang benar - benar telah terlatih dan terbina untuk bisa selamat sampai tujuan akhir yaitu mencapai keridho'an Nya.
Maka dari itu, menyegerakan untuk menikah bukan berarti tergesa - gesa dalam mengambil keputusan. Karena hidup ini terlampau singkat untuk dilewati dengan pilihan yang salah.Ketepatan pemilihan pasangan, kesiapan jiwa dan raga serta penguasaan ilmu tentangnya haruslah kita pahami dengan sungguh - sungguh. Karena suatu perkawinan adalah satu ikatan yang suci dan mulia yang tidak hanya menyangkut kehidupan kita di dunia saja tapi juga menentukan kehidupan kita di akherat. Karena pasangan kita yang baik dan sholeh di dunia, insya Allah akan tetap menjadi pasangan kita kelak di surga.Amin…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar