SABTU, 09 OKTOBER 2010 | 01:10 WITA | 1222 Hits
Share
|
Korban Meninggal 101 Orang
BNPB: Banjir Wasior Murni karena Hujan
JAKARTA -- Badan Nasional Penanggunggalangan Bencana (BNPB) melaporkan, korban meninggal akibat banjir bandang yang melanda Wasior Kabupaten Wondama Papua Barat, sudah mencapai 101 orang. Sementara yang hilang dan diperkirakan sudah meninggal masih ada 76 jiwa.
Selain itu, ungkap Kepala BNPB Syamsul Maarif, pengungsi yang tersebar di Nabire, Manokwari dan daerah sekitar Wasior lainnya, mencapai 3.000 orang. "Di Nabire ada 960 pengungsi, Manokwari 860 orang. Yang jadi persoalan besar di Wasior saat ini adalah stok air bersih," ungkap Syamsul.
Pada bagian lain, BNPB menegaskan bahwa banjir bandang yang melanda daerah yang 90 persen penduduknya berasal dari etnik Wamesa, itu bukan akibat pembalakan liar. Sebaliknya, dia yang berada di Wasior selama tiga hari, menyimpulkan banjir yang memorak-porandakan daerah itu, murni akibat curah hujan yang tinggi.
"Temuan kami di BNPB, banjir bandang disebabkan curah hujan yang tinggi. Kami belum menemukan indikasi akibat pembalakan liar," ucapnya.
Meski begitu, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang sudah dilapori BPNP, tidak percaya begitu saja. Kepala Negara menegaskan akan tetap mengecek langsung ke lapangan untuk mendapatkan data yang sebenarnya.
"Minggu depan saya akan melihat langsung kondisi di sana (Wasior)," ungkap Presiden usai menerima Syamsul Maarif di Kantor Presiden, Jakarta, Jumat 8 Oktober.
SBY berharap BNPB dan pemerintah daerah segera melakukan penyelamatan sekaligus pelayanan bagi pengungsi. Selain upaya tanggap darurat, Presiden juga meminta pejabat setempat untuk memikirkan masa depan Wasior. Para ahli geologi dan geografi akan dimintai pendapat apakah daerah tersebut masih aman ditinggali.
"Kita belum bisa mengambil keputusan sekarang. Harus saya dengar rekomendasi dari gubernur maupun dari para pakar yang mengetahui geologi, geografi, maupun sejauh mana keamanan tempat hunian itu di masa depan," kata SBY.
Bantuan Tiba
Dari Wasior dilaporkan, bantuan pemerintah yang disalurkan melalui udara, sudah mulai didistribusikan pada warga. Bantuan tersebut berupa bahan makanan, pakaian dan selimut yang dibawa dengan dua pesawat Hercules yang mendarat di Manokwari.
Pemerintah menunjuk Komandan Distrik Militer Manokwari Letnan Kolonel E Sitorus sebagai Accident Commander dalam tahap rescue untuk mencari korban jiwa dan pembersihan lingkungan fisik kota Wasior. Prioritas yang kini dimatangkan adalah pembersihan bandar udara, puskesmas dan sekolah, serta perawatan para korban yang luka berat, sedang dan ringan.
Saat ini tercatat 1.859 pengungsi korban tragedi banjir-longsor Wasior berada di Manokwari, Provinsi Papua Barat, dan 500 warga sedang menunggu kedatangan KM Nggapulu untuk keluar dari Teluk Wondama. Mereka memilih mencari tempat aman di luar kota atau bahkan luar pulau.
Eksodus besar-besaran ini terjadi karena warga takut pada banjir susulan dan wabah penyakit ikutan akibat banyak jenazah yang belum ditemukan. Di pihak lain, kondisi sanitasi di kota yang terkena banjir bandang sangat buruk. (jpnn)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar